Ahmad Luthfi Minta Program JTAB Petani Gajian Diperluas ke 1,5 Juta Hektare

- Reporter

Kamis, 17 September 2026 - 18:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG – Petani di Jawa Tengah kini tak lagi dibiarkan menghadapi sendiri persoalan klasik pertanian, seperti modal terbatas, biaya produksi, risiko gagal panen, hingga ketidakpastian harga saat panen tiba.

Melalui program “JTAB Petani Gajian”, petani tidak hanya mendapat dukungan pembiayaan dari awal tanam hingga panen, tetapi juga penghasilan yang disetarakan dengan upah minimum regional (UMR) per hektare.

Melihat manfaat tersebut, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meminta PT Jawa Tengah Agro Berdikari (JTAB) memperluas cakupan program agar semakin banyak petani memperoleh kepastian usaha dan perlindungan ekonomi.

“Ini bagus. Harus diperluas. JTAB koordinasi lagi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan yang punya datanya, kabupaten mana yang bisa di-cover program ini. Kalau bisa ter-cover semua maka akan aman karena ada kepastian untuk petani,” kata Ahmad Luthfi saat menerima audiensi Direktur Utama PT JTAB Totok Agus Siswanto, Kamis, 17 September 2026.

Menurut Ahmad Luthfi, perluasan program menjadi penting karena Jawa Tengah memiliki sekitar 1,5 juta hektare lahan pertanian. Besarnya luasan tersebut perlu diikuti dengan skema perlindungan yang mampu menjangkau petani maupun petani penggarap.

“Sebisa mungkin luasan itu dan petani yang menggarap dapat merasakan manfaat dan perlindungan dari program tersebut,” ujar pria yang memimpin Jawa Tengah bersama wagub Taj Yasin.

Baca Juga :  Jateng Genjot Swasembada Pangan Lewat Mega Farm Sapi Perah Terpadu Brebes

Direktur Utama PT JTAB, Totok Agus Siswanto, mengatakan, hingga September 2026, sekitar 80 petani dengan luas lahan sekitar 200 hektare telah mengikuti program JTAB Petani Gajian. Program tersebut telah berjalan di sejumlah daerah, antara lain Sukoharjo, Sragen, Klaten, dan Kabupaten Semarang.

Komoditas yang digarap meliputi padi, bawang merah, dan jagung. Peserta program tidak terbatas pada pemilik lahan, tetapi juga mencakup petani penggarap.

“Melalui Program JTAB Petani Gajian ini, kita coba bantu kendala-kendala petani terkait kesejahteraan yang kurang. Mulai bantuan modal, pengaturan komoditas yang ditanam, lalu kami kasih penghasilan (gaji) sesuai UMR per hektare, dan kemudian kami sebagai off taker hasil panen,” kata Totok usai bertemu Gubernur Luthfi.

Skema tersebut dirancang untuk membuat petani tidak berjalan sendiri sejak awal musim tanam. Dukungan diberikan mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemupukan hingga panen. Setelah panen, hasil pertanian ditampung JTAB sebagai off-taker dengan harga yang telah disepakati sejak awal.

Untuk mendukung pembiayaan, JTAB menggandeng PT BPR BKK. Sementara untuk penjaminan kredit petani, JTAB menggandeng Jamkrida. Adapun risiko gagal panen diantisipasi melalui kerja sama dengan Jasindo dalam skema asuransi pertanian.

JTAB menargetkan sekitar 1.000 petani dapat terakomodasi melalui program tersebut.

Baca Juga :  BRI Peduli Berbagi Kasih, Salurkan 500 Paket Sembako untuk Jemaat Gereja

Totok mengatakan, kepastian penghasilan dan harga beli diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk kembali melihat sektor pertanian sebagai pilihan pekerjaan dan usaha yang menjanjikan.

“Harapan kami dengan adanya kejelasan dan masa depan yang bagus, nanti akan membuat petani-petani muda kita mau terjun ke sawah. Dari awal kita sudah ada kesepakatan harga beli hasil panen,” jelasnya.

Manfaat program tersebut mulai dirasakan petani peserta. Ruswanto, petani padi asal Kabupaten Sukoharjo, mengatakan keberadaan program JTAB Petani Gajian membuat persoalan modal yang selama ini menjadi salah satu kendala dalam bertani menjadi lebih ringan.

Ia mendapat dukungan sejak pengolahan lahan, penanaman, pemupukan hingga masa panen. Hasil panennya pun telah memiliki kepastian penampungan melalui JTAB.

“Penjualan padi juga sudah ditampung oleh PT JTAB. Saya dukung dan semoga bisa diperluas dan ditambah jaringannya,” ujar Ruswanto.

Bagi Jawa Tengah, perluasan program tersebut bukan sekadar memperbesar jumlah penerima manfaat. Skema itu juga diarahkan untuk membangun rantai usaha pertanian yang lebih pasti, mulai dari pembiayaan, produksi, perlindungan risiko hingga pemasaran.

Dengan demikian, petani diharapkan tidak lagi menghadapi ketidakpastian secara sendirian, baik ketika membutuhkan modal untuk menanam maupun ketika harus menentukan ke mana hasil panen akan dijual.***

Berita Terkait

Kawasan Industri Diproyeksi Penuh Dua Tahun Lagi, Luthfi Minta KBT Dipercepat
PRPP Jateng Bakal Dibenahi Menyeluruh, Luthfi: Jadi Prioritas Satu
Ahmad Luthfi Kawal Investasi Rp5 Triliun Investor Dubai di Jepara
Luthfi Jadikan Penghargaan Investasi sebagai Pelecut, DPMPTSP Diminta Jemput Bola
LG DUALCOOL Inverter New Terminator Raih Pengakuan Efisiensi Energi dari UI
Investasi Dubai Rp5 Triliun Masuk Jateng, Mini Refinery Dibangun di Jepara
Streamlining Drilling Pertamina, SP Persada IV Dorong PDSI Jadi Induk Nasional
Bulog dan Satgas Pangan Cek Langsung Penyaluran Bantuan Beras ke Warga

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 18:56 WIB

Kawasan Industri Diproyeksi Penuh Dua Tahun Lagi, Luthfi Minta KBT Dipercepat

Kamis, 17 September 2026 - 18:45 WIB

Ahmad Luthfi Minta Program JTAB Petani Gajian Diperluas ke 1,5 Juta Hektare

Kamis, 17 September 2026 - 18:32 WIB

PRPP Jateng Bakal Dibenahi Menyeluruh, Luthfi: Jadi Prioritas Satu

Kamis, 17 September 2026 - 18:24 WIB

Ahmad Luthfi Kawal Investasi Rp5 Triliun Investor Dubai di Jepara

Kamis, 17 September 2026 - 06:01 WIB

Luthfi Jadikan Penghargaan Investasi sebagai Pelecut, DPMPTSP Diminta Jemput Bola

Berita Terbaru