Dari Pesantren ke Cina dan Mesir, Beasiswa Pesantren Obah Buka Jalan Santri Jateng

- Reporter

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui program Pesantren Obah mengirim santri terbaik untuk menempuh pendidikan di China dan Mesir melalui skema beasiswa. Program ini menjadi langkah strategis menyiapkan generasi pesantren yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga menguasai sains dan teknologi untuk menjawab tantangan zaman.

Santri dan santriwati di Jawa Tengah didorong untuk semakin percaya diri dan mengambil peran strategis dalam pembangunan daerah.

“Para santri harus percaya diri, harus menegakkan kepala. Di belakang santri ada kami. Santri ini adalah yang terdepan, Anda adalah garda terdepan untuk membentengi, sebagai cooling system,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, saat memberikan pembekalan kepada 73 santri dan pengasuh pondok pesantren penerima beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Gedung Merah Putih, Rabu (12/8/2026).

Pesan tersebut menjadi penegasan arah program Pesantren Obah yang digagas Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen. Melalui program tersebut, Pemprov Jateng mendorong santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kompetensi akademik dan profesional yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

Pada 2026, Pemprov Jateng mengalokasikan total hibah beasiswa mencapai Rp 8,34 miliar untuk pendidikan S1, S2, dan S3, baik di dalam maupun luar negeri. Penyalurannya dilakukan melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP).

Sebanyak 73 penerima beasiswa yang mendapat pembekalan terdiri atas 15 penerima beasiswa luar negeri, 27 santri penerima beasiswa dalam negeri, serta 31 pengasuh pondok pesantren penerima beasiswa dalam negeri.

Untuk penerima beasiswa luar negeri, sebanyak tiga santri mendapat kesempatan menempuh pendidikan bidang saintek di Cina. Selain itu, delapan santri melanjutkan studi ke Mesir, terdiri atas satu mahasiswa kedokteran Al-Azhar dan tujuh mahasiswa bidang keislaman Al-Azhar.

Baca Juga :  Jateng Siapkan Kurikulum Koperasi Masuk Sekolah Mulai Tahun Ajaran Baru

Tiga santri lainnya melanjutkan pendidikan ke Al-Ahqof, Yaman, sedangkan satu penerima mengikuti program double degree.

Ahmad Luthfi mengatakan, program tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing santri. Pendidikan santri, menurut dia, harus berkembang dari penguasaan ilmu agama menuju penguasaan berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan masyarakat.

“Program ini agar santri memiliki nilai yang lebih dari saat ini. Artinya, santri tidak hanya belajar tentang agama tetapi juga keilmuan-keilmuan lain seperti kedokteran, saintek, dan lain sebagainya sehingga santri bisa masuk di semua lini masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai santri memiliki modal sosial yang kuat karena pendidikan pesantren membekali mereka dengan nilai toleransi, aturan, serta pemahaman keagamaan. Karena itu, santri harus berani tampil di ruang publik dan mengambil posisi strategis dalam kehidupan bermasyarakat.

“Saya ngasih beasiswa ke BEM atau kelompok mahasiswa itu biasa, tetapi santri ini luar biasa karena mempunyai nilai lebih dari yang bukan santri. Santri diajarkan tentang toleransi beragama dan apapun tentang aturan kebenaran,” kata Ahmad Luthfi.

Ia bahkan menyampaikan kegelisahannya jika masih ada santri yang merasa rendah diri.

“Elek-elek koyo ngene iki Gubernurnya ya santri, jadi saya ikut merasakan sakit kalau ada santri tidak percaya diri,” ujarnya.

Ahmad Luthfi menegaskan, pengembangan kapasitas santri tidak boleh berhenti pada program provinsi. Ia meminta seluruh pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah ikut mengambil bagian agar pemberdayaan pesantren dapat menjangkau lebih banyak santri.

Menurutnya, pada tahun ini baru 942 santri dan pengasuh pondok pesantren yang mengikuti seleksi program beasiswa. Jumlah tersebut masih sangat kecil dibandingkan lebih dari 5.000 santri yang tercatat di Jawa Tengah.

Baca Juga :  62 Siswa Berprestasi Terancam Gagal, Sekda Jateng Ajak ASN Turun Tangan

“Ini masih kurang dan harus dijadikan role model, sehingga tidak hanya provinsi yang bergerak, tetapi kabupaten/kota nanti kita ikut sertakan sehingga pemberdayaan pesantren ini bisa menyeluruh,” tegasnya.

Langkah tersebut dinilai penting agar pesantren tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi salah satu kekuatan utama yang menghasilkan sumber daya manusia unggul dari Jawa Tengah.

Dalam kesempatan yang sama, Pemprov Jateng menandatangani kesepahaman bersama dengan 24 Ma’had Aly, yakni lembaga pendidikan tinggi berbasis pesantren yang memiliki kedudukan setara perguruan tinggi.

Ahmad Luthfi mengatakan, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan pesantren sekaligus memastikan program pemberdayaan berjalan dengan mekanisme yang jelas.

“MoU ini merupakan mekanisme yang harus kita jalankan karena kinerja berbasis anggaran tidak bisa sembarangan,” katanya.

Sementara itu, salah satu penerima beasiswa, Akhmad Khafidz Al Mubarok, bersyukur mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan S1 bidang Computer Science and Technology di Dalian University of Technology, Cina.

Bagi Khafidz, beasiswa tersebut bukan hanya membuka jalan untuk meraih cita-cita, tetapi juga menjadi kesempatan membantu meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

“Sangat bahagia karena bisa membantu perekonomian orang tua. Pilih jurusan Computer Science and Technology karena dari kecil sudah minat dan ingin mendalaminya di salah satu pusat teknologi yaitu Cina,” ujarnya.

Program Pesantren Obah diharapkan menjadi pijakan untuk melahirkan generasi santri yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga kompeten di bidang sains, teknologi, kedokteran, dan berbagai sektor strategis lainnya. Dengan begitu, santri memiliki ruang yang semakin luas untuk berkontribusi sekaligus menjadi bagian penting dalam pembangunan Jawa Tengah.***

Berita Terkait

Taj Yasin Tekankan Integrasi Sains, Teknologi, dan Nilai Keilmuan Pesantren
Beasiswa Santri Pemprov Jateng Buka Jalan Aqila Kuliah Kedokteran Gigi Undip
English Public Speaking Jadi Bekal 200 Siswa Madrasah Wonosobo Hadapi Persaingan Global
Bulog Campus Preneur, Mahasiswa Berpeluang Jadi Pengusaha Pangan Lewat RPK Muda
Sekolah Rakyat Jateng Tampung Ribuan Siswa, Gus Yasin Optimistis Tekan Kemiskinan
Gus Yasin: Kampus Harus Jadi Mitra Pemerintah Atasi Persoalan Lingkungan
73 Santri dan Pengasuh Pesantren Raih Beasiswa Pesantren Obah Jateng 2026
Pemprov Jateng Tangani Dua SD Roboh, Luthfi Tekankan Mitigasi Sekolah Rawan

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 20:05 WIB

Taj Yasin Tekankan Integrasi Sains, Teknologi, dan Nilai Keilmuan Pesantren

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:55 WIB

Dari Pesantren ke Cina dan Mesir, Beasiswa Pesantren Obah Buka Jalan Santri Jateng

Rabu, 12 Agustus 2026 - 17:38 WIB

Beasiswa Santri Pemprov Jateng Buka Jalan Aqila Kuliah Kedokteran Gigi Undip

Jumat, 7 Agustus 2026 - 17:47 WIB

English Public Speaking Jadi Bekal 200 Siswa Madrasah Wonosobo Hadapi Persaingan Global

Kamis, 6 Agustus 2026 - 13:42 WIB

Bulog Campus Preneur, Mahasiswa Berpeluang Jadi Pengusaha Pangan Lewat RPK Muda

Berita Terbaru