Jateng Siapkan Industri Rendah Karbon demi Perkuat Posisi di Rantai Pasok Dunia

- Reporter

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG – Standar perdagangan global yang semakin ketat terhadap produk rendah emisi karbon mendorong percepatan transformasi industri di Jawa Tengah.

Industri hijau kini menjadi strategi utama untuk menjaga daya saing ekspor, menarik investasi berkualitas, sekaligus memperkuat posisi provinsi ini dalam rantai pasok dunia.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan, transformasi menuju industri hijau bukan lagi sekadar agenda masa depan, melainkan kebutuhan mendesak agar industri di Jawa Tengah tetap mampu menembus pasar global dan menarik investasi berkualitas.

Karena itu, Pemprov Jawa Tengah mempercepat penerapan industri ramah lingkungan berbasis efisiensi energi dan energi baru terbarukan di seluruh sektor industri.

“Penerapan green economy dan green industry menjadi prioritas utama kita. Dunia internasional harus melihat, Jawa Tengah serius membangun industri yang berkelanjutan,” kata Ahmad Luthfi saat membuka Jateng Green Industrial Summit 2026 di Grand Candi Hotel, Semarang, Kamis malam (23/7/2026).

Menurut Luthfi, perubahan standar perdagangan dunia menuntut industri beradaptasi. Negara-negara tujuan ekspor kini semakin ketat menerapkan persyaratan produk rendah emisi karbon, sehingga transformasi industri hijau menjadi syarat untuk menjaga daya saing.

Ia mengungkapkan, pesan tersebut juga disampaikan perwakilan 41 negara Uni Eropa yang ditemuinya di Solo.

Baca Juga :  GRANDE 2027 “Tahta Pesona Raya”, Ethica Group Perkuat Tren Sarimbit dan Jaringan Mitra

“Mereka menyampaikan bahwa sustainability, industri hijau, dan energi baru terbarukan sekarang sudah menjadi kebutuhan,” ujar pria yang menggawangi Jawa Tengah dengan Wagub Taj Yasin ini.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemprov Jawa Tengah telah memasukkan pengembangan industri hijau sebagai prioritas dalam RPJMD 2025-2029 dan memperkuatnya melalui Pergub Jawa Tengah Nomor 26 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Fasilitasi Industri Hijau.

Selain regulasi, pemerintah juga menyiapkan berbagai insentif bagi kawasan industri maupun perusahaan yang menerapkan prinsip industri hijau, dan memanfaatkan energi baru terbarukan.

Transformasi tersebut, kata Luthfi, harus dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari industri kecil, menengah, hingga besar, dengan melibatkan pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, serta kawasan industri agar terbentuk ekosistem industri hijau yang kuat.

Jateng Green Industrial Summit 2026 menjadi salah satu langkah konkret untuk mempercepat kolaborasi tersebut. Forum yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah bersama Institute for Essential Services Reform (IESR) itu, mempertemukan pemerintah, pelaku industri, kawasan industri, perguruan tinggi, lembaga pembiayaan, dan berbagai pemangku kepentingan guna mempercepat transformasi industri hijau di Jawa Tengah.

Dalam kesempatan itu juga diserahkan Penghargaan Industri Hijau Jawa Tengah kepada pelaku industri, kawasan industri, pemerintah daerah, industri kecil, serta sekolah yang dinilai berkontribusi dalam mendorong penerapan industri hijau.

Baca Juga :  Wonosobo Siapkan Strategi untuk Jaga Kestabilan Harga Jelang Lebaran

Sementara itu, CEO IESR Fabby Tumiwa menyebut transformasi tersebut menjadi semakin penting karena kinerja ekspor Jawa Tengah terus menunjukkan tren positif.

Nilai ekspor Jawa Tengah pada Januari-April 2026 mencapai USD 4,57 miliar, meningkat 19,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor tersebut didominasi industri pengolahan dengan pasar utama Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Belanda, dan Korea Selatan.

“Ini menunjukkan ekspor Jawa Tengah ditopang sektor manufaktur, bukan komoditas mentah. Namun pasar ekspor kini semakin menuntut rantai pasok rendah emisi karbon, sehingga transformasi menuju industri hijau menjadi kebutuhan,” kata Fabby.

Selama tiga tahun terakhir, IESR bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah telah mengembangkan berbagai program percepatan industri hijau.

Di antaranya yakni, penyusunan indeks kesiapan industri hijau, pendampingan pemerintah kabupaten/kota, serta pembentukan Industrial Assessment Centre yang melibatkan perguruan tinggi untuk membantu industri kecil dan menengah menerapkan prinsip industri hijau.

Dengan langkah tersebut, Jawa Tengah diharapkan tidak hanya mempertahankan daya saing industri nasional, tetapi juga semakin memperkuat posisinya sebagai tujuan investasi yang berkelanjutan dan berorientasi pada pasar global.

Berita Terkait

IKM Terkendala Modal, Taj Yasin Dorong Akses Pembiayaan Hijau
Perubahan APBD Jateng 2026 Disepakati, Jalan hingga Fasilitas Sekolah Digenjot
Dirut BULOG Cek Langsung Pasokan Beras Premium, Stok Aman hingga Juli 2027
Jateng Sabet TPID Terbaik Nasional, Produksi dan Distribusi Pangan Jadi Kunci
Dorong Efisiensi Energi, LG Luncurkan Rangkaian AC Berteknologi AI di Indonesia
GIIAS Semarang 2026, Pasar Otomotif dan PAD Jateng Berpeluang Tumbuh
Jepang Butuh Pengemudi, Jateng Siapkan Tenaga Kerja Teruji
Jateng Tarik Investasi Tiongkok Rp4,55 Triliun, 213 Ribu Tenaga Kerja Terserap

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 18:15 WIB

IKM Terkendala Modal, Taj Yasin Dorong Akses Pembiayaan Hijau

Senin, 28 September 2026 - 16:14 WIB

Perubahan APBD Jateng 2026 Disepakati, Jalan hingga Fasilitas Sekolah Digenjot

Minggu, 27 September 2026 - 23:03 WIB

Dirut BULOG Cek Langsung Pasokan Beras Premium, Stok Aman hingga Juli 2027

Kamis, 24 September 2026 - 17:29 WIB

Jateng Sabet TPID Terbaik Nasional, Produksi dan Distribusi Pangan Jadi Kunci

Selasa, 22 September 2026 - 21:42 WIB

Dorong Efisiensi Energi, LG Luncurkan Rangkaian AC Berteknologi AI di Indonesia

Berita Terbaru