Ketahanan Pangan Jateng Kokoh di Tengah Bencana, Surplus Beras Tembus 700 Ribu Ton

- Reporter

Selasa, 7 April 2026 - 17:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SOLO – Ketahanan pangan Jawa Tengah tetap kokoh meski sejumlah wilayah dilanda bencana banjir yang berpotensi memicu gagal panen. Hingga Maret 2026, neraca beras tercatat surplus ratusan ribu ton, memperkuat posisi daerah ini sebagai penopang kebutuhan pangan nasional.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan kondisi swasembada pangan tetap aman di tengah ancaman bencana yang melanda sejumlah daerah dan berdampak pada lahan pertanian.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan, produksi pangan di wilayahnya masih berada pada surplus dan mampu mendukung kebutuhan nasional. Ia menyebut kontribusi sektor pertanian Jawa Tengah cukup signifikan, termasuk dalam penyediaan gabah kering.

“Surplus pangan kita kuat. Bahkan sekitar 15,6 persen kontribusi sawah dan gabah kering kita turut membantu kebutuhan nasional,” ujar Luthfi usai menghadiri open house HUT ke-10 Tribun Solo di Gedung Tribun News, Kota Surakarta, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya, pemerintah juga telah menyiapkan skema perlindungan bagi petani yang terdampak bencana, khususnya bagi lahan yang mengalami puso atau gagal panen. Skema tersebut dilakukan melalui dukungan pembiayaan, termasuk melalui Jamkrida, agar petani tidak menanggung kerugian secara mandiri.

“Kalau ada sawah terdampak bencana, kita cover melalui Jamkrida supaya petani tetap bisa bangkit,” katanya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, neraca pangan daerah hingga Maret 2026 masih dalam kondisi relatif aman. Surplus beras tercatat mencapai 702.409 ton.

Baca Juga :  Meski Ada Efisiensi Anggaran, Rumah Bersubsidi di Jateng Tetap Diminati

Tak hanya beras, komoditas lain seperti daging dan telur juga mengalami surplus selama periode Januari hingga Maret 2026. Kondisi ini dinilai mampu menjaga stabilitas pasokan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, sebelumnya menyampaikan bahwa tren produksi pertanian menunjukkan perkembangan positif. Hingga awal April 2026, realisasi produksi padi telah mencapai 4.169.353 ton gabah kering giling (GKG) dari target 10.559.679 ton, atau sekitar 39,48 persen.

Sementara itu, produksi jagung dari target 3.700.000 ton telah mencapai 984.959 ton atau 26,62 persen. Adapun kedelai masih berada pada tahap awal, dengan realisasi 762 ton dari target 52.790 ton, atau sekitar 1,44 persen.

Untuk komoditas hortikultura, produksi bawang merah tercatat 144.705 ton dari target 617.015 ton (23,45 persen), sedangkan cabai mencapai 80.892 ton dari target 456.621 ton (17,72 persen). Pada sektor peternakan, produksi telur mencapai 238.154 ton dari target 917.863 ton (25,95 persen), daging 311.042 ton dari target 942.497 ton (33 persen), serta susu 17.928 ton dari target 76.570 ton (23,41 persen).

“Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi agar surplus ini bisa merata, dan menjaga stabilitas harga,” ujar Frans, sapaannya.

Baca Juga :  Sherly Tjoanda Pelajari Inovasi Digital Jateng Ngopeni Nglakoni

Dalam mendukung pencapaian target produksi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan berbagai program strategis pada 2026. Di antaranya, bantuan benih dan sarana produksi untuk padi seluas 47.200 hektare, jagung 3.200 hektare, kedelai 3.000 hektare, cabai 310 hektare, serta bawang merah TSS seluas 25 hektare.

Dari sisi infrastruktur, pemerintah merehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier, dan membangun 75 paket irigasi perpipaan.

Modernisasi pertanian juga diperkuat melalui distribusi alat dan mesin pertanian, antara lain 100 unit rice transplanter, 86 unit traktor crawler, 30 unit traktor roda empat, 100 unit pompa air, 10 unit combine harvester, serta puluhan unit cultivator dan hand tractor.

Pada sektor perlindungan petani, program asuransi usaha tani padi mencakup 10.449 hektare lahan, serta asuransi tembakau seluas 10.000 hektare. Pemerintah juga mengalokasikan subsidi suku bunga bagi 800 paket pembiayaan petani.

Menurut Frans, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sistem pertanian. Hal itu mencakup penguatan luas baku sawah, peningkatan indeks pertanaman, serta pemanfaatan teknologi pertanian.

Dengan capaian tersebut, Jawa Tengah dinilai masih menjadi salah satu lumbung pangan utama nasional, sekaligus berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan bencana dan perubahan iklim.**

 

Berita Terkait

Lari 5K hingga Kuliner Gratis Semarakkan Penutupan HUT ke-81 Jateng
Dieng Culture Festival 2026, Merayakan Harmoni Budaya dari Negeri Atas Awan
Sanggar Greget Semarang Bagikan Pengalaman, 12 Sanggar Sragen Menimba Ilmu
Pamor Wicaksono Raih Penghargaan, Dedikasi untuk Masyarakat Brebes Berlanjut
Dari Dosen hingga Advokat, 177 Orang Ikuti Seleksi Komisioner KI Jateng
Dika Diadili dalam Kasus Penipuan Investasi Bodong, Pensiunan Padati Pengadilan Purwokerto
Hadapi Kekeringan, Taj Yasin Tekankan Modifikasi Cuaca dan Perbaikan Resapan Air
Karhutla Melonjak, Taj Yasin Ingatkan Warga Waspada Kebakaran

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:16 WIB

Lari 5K hingga Kuliner Gratis Semarakkan Penutupan HUT ke-81 Jateng

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 21:05 WIB

Dieng Culture Festival 2026, Merayakan Harmoni Budaya dari Negeri Atas Awan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 17:21 WIB

Sanggar Greget Semarang Bagikan Pengalaman, 12 Sanggar Sragen Menimba Ilmu

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 06:53 WIB

Pamor Wicaksono Raih Penghargaan, Dedikasi untuk Masyarakat Brebes Berlanjut

Jumat, 28 Agustus 2026 - 18:46 WIB

Dari Dosen hingga Advokat, 177 Orang Ikuti Seleksi Komisioner KI Jateng

Berita Terbaru