Bendungan Jlantah Jadi Andalan Baru Pertanian Jateng, Panen Padi Bisa Tiga Kali Setahun

- Reporter

Jumat, 10 Juli 2026 - 19:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KARANGANYAR – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) atas diresmikannya Bendungan Jlantah di Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar. Bendungan tersebut dinilai akan memberikan manfaat besar bagi sektor pertanian, pengendalian banjir, hingga penyediaan air baku bagi masyarakat di Jatiyoso.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mewakili gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin, mengatakan, pembangunan Bendung Jlantah merupakan wujud nyata dukungan pemerintah pusat terhadap penguatan infrastruktur sumber daya air di Jawa Tengah. Ia juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Karanganyar yang telah mendukung proses pembangunan, terutama dalam penyediaan lahan dan sosialisasi kepada masyarakat.

“Kami dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tentu mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah pusat, Bapak Presiden, dan Kementerian PU yang telah membangun Bendungan Jlantah. Seluruh pembangunannya didanai APBN. Kami juga berterima kasih kepada Bupati Karanganyar yang telah mendukung penyediaan lahan dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” ujar Sumarno usai peresmian, Jumat, 10 Juli 2026.

Menurutnya, Bendungan Jlantah memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan daerah. Selain berfungsi sebagai pengendali banjir, bendungan tersebut juga menjadi sumber penyediaan air irigasi yang akan memperkuat ketahanan pangan di Jawa Tengah.

Sumarno menjelaskan, bendungan itu memiliki kapasitas untuk mengairi sekitar 1.500 hektare lahan pertanian yang telah ada, sekaligus mendukung pengembangan sekitar 229 hektare lahan sawah baru.

Dengan asumsi lahan tersebut dapat ditanami padi sebanyak tiga kali dalam setahun dan menghasilkan rata-rata enam ton gabah per hektare setiap musim tanam. Bendungan Jlantah diperkirakan mampu menopang produksi hingga sekitar 27 ribu ton padi setiap tahun.

“Ini tentu akan meningkatkan kapasitas produksi padi dan memperkuat ketahanan pangan, khususnya di Kabupaten Karanganyar dan sekitarnya,” katanya.

Selain mendukung sektor pertanian, Bendungan Jlantah juga akan menyediakan air baku bagi masyarakat dengan kapasitas sekitar 125 liter per detik. Menurut Sumarno, ketersediaan air tersebut akan membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan air bersih.

Baca Juga :  Ramadhan Fest DWP Jateng Hadirkan 52 Stand Produk Pangan dan Kuliner Ramadan

Tidak hanya itu, bendungan tersebut juga dirancang untuk mendukung pemanfaatan energi baru terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga sektor energi.

Meskipun telah diresmikan, Sumarno menyebut masih terdapat pekerjaan lanjutan yang perlu segera diselesaikan, yakni pembangunan jaringan irigasi agar manfaat bendungan dapat dirasakan secara optimal.

Ia mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Karanganyar telah berkoordinasi dengan Kementerian PU untuk mengusulkan pembangunan jaringan irigasi melalui Instruksi Presiden (Inpres).

“Nanti kami bersama Pemerintah Kabupaten Karanganyar akan mengusulkan pembangunan jaringan irigasi tersier melalui Inpres. Sementara Kementerian PU akan menangani pembangunan jaringan irigasi primer dan sekunder sehingga distribusi air ke lahan pertanian dapat berjalan maksimal,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sumarno menilai pengelolaan sumber daya air ke depan perlu dilakukan secara terpadu. Menurutnya, keberadaan bendungan utama perlu didukung pembangunan bendung-bendung kecil di sepanjang aliran sungai agar air tidak langsung mengalir ke laut dan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

“Kalau kita ingin memanfaatkan air seoptimal mungkin, sebaiknya tidak hanya ada bendung besar seperti ini, tetapi juga bendung-bendung kecil di bagian hilir. Dengan begitu air bisa ditampung lebih lama, dimanfaatkan masyarakat, serta mendukung pertanian dan kebutuhan air di berbagai wilayah,” pungkasnya.
Sementara itu, kehadiran Bendung Jlantah di Kabupaten Karanganyar membawa perubahan besar bagi sektor pertanian, khususnya bagi para petani di Desa Tlobo. Jika sebelumnya hanya mampu menanam padi dua kali dalam setahun, kini petani dapat melakukan tiga kali musim tanam (MT) dengan hasil panen yang lebih optimal.

Koordinator Kelompok Petani Pemakai Air Desa Tlobo, Sugeng, mengatakan sebelum bendung dibangun, ketersediaan air menjadi persoalan utama, terutama saat musim kemarau.

Baca Juga :  Pasokan Listrik PLN Andal, Rangkaian Peringatan HUT RI Berlangsung Khidmat dan Meriah

“Kalau dulu sebelum ada bendung, petani hanya bisa dua musim tanam. Musim tanam ketiga tidak bisa panen karena kekurangan air. Setelah ada bendung ini, sekarang sudah bisa tiga musim tanam,” ujarnya.

Menurut Sugeng, sebelum bendung beroperasi, petani bahkan harus bergiliran mengatur distribusi air irigasi setiap pekan agar seluruh lahan tetap mendapatkan pasokan air. Namun upaya tersebut tetap belum mampu mengatasi keterbatasan air pada musim kemarau.

Ia mengungkapkan, kondisi berbeda kini dirasakan petani. Pada bulan Juni hingga Juli, yang sebelumnya menjadi periode paling rawan kekeringan, aliran air kini tetap tersedia.

“Biasanya bulan Juni dan Juli daerah bawah ini kering. Sekarang sudah ada limpasan air terus, jadi aliran air berkelanjutan,” katanya.

Sugeng menyampaikan apresiasi kepada pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) yang telah membangun Bendung Jlantah sehingga harapan petani terhadap kepastian pasokan air dapat terwujud.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Balai Besar karena apa yang menjadi harapan masyarakat akhirnya bisa terpenuhi,” tuturnya.

Meski demikian, Sugeng berharap pemerintah tidak berhenti pada pembangunan bendung utama. Ia meminta agar jaringan irigasi di bagian hilir juga mendapat perhatian karena masih terdapat dua bendung kecil yang mengalami kerusakan.

Menurutnya, kerusakan tersebut menghambat distribusi air ke lahan pertanian di wilayah bawah, sementara masyarakat tidak memiliki kemampuan anggaran untuk melakukan perbaikan secara mandiri.

“Harapan kami kepada Balai Besar, bendung-bendung kecil yang rusak di bawah ini bisa segera diperbaiki. Masyarakat tentu tidak memiliki anggaran untuk memperbaikinya sendiri,” ujarnya.

Ia berharap perbaikan jaringan irigasi tersebut dapat semakin mengoptimalkan manfaat Bendungan Jlantah sehingga pasokan air dapat menjangkau seluruh areal pertanian hingga ke wilayah hilir, termasuk kawasan Jatipuro, dan meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan.***

Berita Terkait

Pasar Semarang Sumbang 14 Persen Bisnis ARTUGO
Investasi Rp19,07 Triliun Mengalir ke Jateng, Pemerintah Siapkan Ekosistem Usaha
Pengeboran Panas Bumi Gunung Ungaran Ditargetkan Akhir 2028, Potensi 55 MW
Bantu Keluarga Keluar dari Kemiskinan, PKK-Baznas Jateng Beri Pelatihan Usaha
Transportasi Jateng Bertransformasi, Taksi Listrik Jadi Langkah Awal
GRANDE 2027 “Tahta Pesona Raya”, Ethica Group Perkuat Tren Sarimbit dan Jaringan Mitra
Potong Tumpeng HUT ke-27 SP PLN, Abrar Ali Tegaskan Perjuangan Hak Pekerja
Abrar Ali Kukuhkan Pengurus SP PLN UID Yogyakarta, Tekankan Komunikasi dan Kolaborasi

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 20:53 WIB

Pasar Semarang Sumbang 14 Persen Bisnis ARTUGO

Kamis, 27 Agustus 2026 - 20:31 WIB

Investasi Rp19,07 Triliun Mengalir ke Jateng, Pemerintah Siapkan Ekosistem Usaha

Kamis, 27 Agustus 2026 - 09:03 WIB

Pengeboran Panas Bumi Gunung Ungaran Ditargetkan Akhir 2028, Potensi 55 MW

Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:19 WIB

Bantu Keluarga Keluar dari Kemiskinan, PKK-Baznas Jateng Beri Pelatihan Usaha

Senin, 24 Agustus 2026 - 13:38 WIB

Transportasi Jateng Bertransformasi, Taksi Listrik Jadi Langkah Awal

Berita Terbaru