SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Jawa Tengah, yang tampil di Inacraft Oktober Vol. 5 2026, tidak berhenti pada pasar nasional. Tetapi mampu menembus pasar global.
Hal itu disampaikan Taj Yasin, saat mengunjungi Paviliun Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah, dalam ajang Inacraft Oktober Vol. 5 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa, 7 Oktober 2026.
Menurutnya, Inacraft menjadi momentum penting untuk melihat potensi produk kriya dan UMKM Jawa Tengah sekaligus memetakan produk yang memiliki peluang pasar di berbagai negara.
“Dengan Inacraft saya melihat potensinya besar. Tadi kita coba arahkan mana yang harus dikirim untuk pameran ke luar negeri, ada yang ke Eropa, Afrika, dan mana yang bisa dikirim ke Arab,” kata Taj Yasin.
Ia menilai, proses kurasi menjadi hal penting agar produk-produk UMKM yang telah memiliki kualitas baik dapat diarahkan sesuai karakter pasar internasional.
“Ini yang harus kita kurasi lagi supaya mereka hari ini pameran di sini bisa ke internasional. Itu yang penting,” ujarnya.
Taj Yasin berharap keikutsertaan UMKM Jawa Tengah dalam pameran berskala nasional dan internasional tidak sekadar menjadi ajang promosi. Tetapi menjadi pintu masuk menuju perluasan jaringan pasar dan peningkatan daya saing produk.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin, M.S.I, yang hadir di acara yang sama mengatakan, pihaknya melihat banyak inovasi menarik pada produk yang dipamerkan. Salah satunya berupa pengembangan produk turunan batik dan wastra.
“Inovasi-inovasinya bagus-bagus. Produk-produk turunannya juga sangat bagus, mulai dari ready to wear sampai pengelolaan limbah seperti kain perca yang dibuat menjadi berbagai aksesori,” kata isteri Wagub tersebut.
Menurut Nawal, inovasi dan segmentasi pasar menjadi kunci agar produk UMKM Jawa Tengah dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Ia mengajak masyarakat untuk mengunjungi Paviliun Jawa Tengah selama penyelenggaraan Inacraft di JICC.
“Mudah-mudahan semakin keren UMKM di Jawa Tengah. Ayo datang ke JCC, di Paviliun Jawa Tengah. Kita menghadirkan banyak produk kriya, batik, dan sebagainya,” ujarnya.
Kepala Dinas Koperasi Jawa Tengah, Linda Widiastuti Ariningrum menambahkan, keikutsertaan Jawa Tengah dalam INACRAFT 2026 mengusung tema “From Smart Village to Global Market”.
Jawa Tengah membuka 14 stan yang mewadahi 72 UMKM. Dari jumlah tersebut, 50 UMKM bergerak di bidang fashion, 10 UMKM bidang craft, sementara sisanya menampilkan produk lainnya, termasuk sapu dan produk kerajinan lain.
Linda mengatakan, produk yang ditampilkan telah melalui sejumlah kriteria. Di antaranya merupakan produk unggulan daerah, memiliki kualitas dan kontinuitas produksi yang terjaga, serta telah memiliki orientasi pasar nasional dan global.
“Produk yang kita tampilkan merupakan produk unggulan Jawa Tengah atau masing-masing daerah dengan kualitas dan kontinuitas terjaga. Mengapa? Karena memang orientasinya sudah global market,” jelasnya.
Selain kualitas, pihaknya juga menekankan aspek inovasi, kreativitas, kebaruan, serta keberlanjutan. Produk yang ditampilkan tidak hanya harus menarik secara visual. Tetapi juga mampu menjawab kebutuhan pasar yang semakin memperhatikan aspek lingkungan.
“Jadi ada nilai inovasi, kreativitas, lalu keberlanjutannya. Bagaimana produk ini memanfaatkan limbah, bagaimana produk-produk ini berbasis recycle material,” katanya.
Menurut Linda, salah satu contoh inovasi ditunjukkan oleh produk dari Sragen yang memanfaatkan bahan turunan tekstil. Produk tersebut tidak lagi hanya mengandalkan kain sebagai bahan utama. Tetapi mengolah material turunannya menjadi produk kreatif yang menyasar konsumen milenial dan generasi Z.
Pada keikutsertaan sebelumnya, Jawa Tengah menargetkan transaksi sekitar Rp800 juta.
Pada kesempatan tersebut, Taj Yasin dan Nawal Arafah mengunjungi stan dari Jawa Tengah yang berada di Paviliun Dekranasda Jateng. Sejumlah kabupaten/kota yang turut serta dalam pameran antara lain, Kabupaten Kendal, Purbalingga, Klaten, Jepara, Sukoharjo, Kebumen, Kota Semarang, Tegal, Pekalongan, dan Salatiga.
Salah satu stan yang mendapat perhatian Taj Yasin, dari Kabupaten Sragen. Mereka memanfaatkan bahan turunan tekstil sebagai inovasi. Menampilkan desainer Akhsan, pemuda asal Sragen yang mengembangkan produk kreatif dengan segmen milenial dan Gen Z.
Akhsan melalui brand Ikaten, mengembangkan teknologi upcycle woven, yang menggunakan limbah benang sarung goyor. Limbah tersebut diolah menjadi karya tenun dari tangan Simbah Surati, salah seorang perajin tenun tradisional di Sragen. Hasilnya, terciptalah karya fashion yang disukai market tingkat nasional.
Dia mengaku bersyukur melalui fasilitasi dari Dekranasda Kabupaten Sragen, dapat mempertemukan dirinya dengan hasil tenun Simbah Surati.
“Terima kasih sekalii karena sudah difasilitasi dengan pameran, ke depannya bisa ada regenerasi untuk tenun tradisional yang saat ini dikembangkan Simbah Surati,” harapnya.***









