Refleksi Kesra 2025 Jateng: Kecamatan Berdaya Menjawab Kebutuhan Desa

- Reporter

Senin, 29 Desember 2025 - 20:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG – Negara yang baik bukan yang paling keras bersuara, melainkan yang paling dekat terasa. Tak melulu hadir lewat gedung megah dan pidato panjang, pembangunan bermakna lahir dari kerja senyap yang berdampak panjang.

Di Jawa Tengah, ia justru memilih menyusur nadi kehidupan warga. Dari balai kecamatan, lapangan desa, hingga ruang pelayanan sederhana. Dari kegelisahan itulah Kecamatan Berdaya dirancang, sebuah ikhtiar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memendekkan jarak antara kebijakan dan warga.

Bagi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, kecamatan bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah simpul kehidupan, tempat warga mengurus hak, mencari perlindungan, mengembangkan potensi, dan berharap pada masa depan yang lebih baik. Melalui Kecamatan Berdaya, negara dihadirkan lebih dekat, lebih membumi, dan lebih terasa manfaatnya.

Sepanjang 2025, gagasan itu mulai berwujud. Sebanyak 142 kecamatan di Jawa Tengah ditetapkan sebagai proyek percontohan Kecamatan Berdaya dan mulai menjalankan program pemberdayaan. Di wilayah-wilayah ini, layanan perlindungan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga ruang aktualisasi generasi muda mulai ditata dan dijalankan secara terintegrasi.

“Kecamatan Berdaya adalah jembatan layanan pemerintah ke 8.490 desa dan 576 kecamatan,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil Jawa Tengah, Nadi Santoso, Senin, 29 Desember 2025.

Baca Juga :  Sekda Jateng Lepas Merbabu Skyrace, Ribuan Pelari Taklukkan Jalur Pegunungan

Dari jembatan inilah, warga Jawa Tengah diharapkan dapat mengakses layanan negara tanpa harus merasa jauh dan terpinggirkan. Program ini dibangun di atas empat pilar utama.

Pertama, perlindungan perempuan dan anak, yang diwujudkan melalui penguatan layanan dan pelatihan kader paralegal di tingkat kecamatan. Kedua, pemberdayaan pemuda lewat Kartu Zilenial dan penyediaan sport center sebagai ruang tumbuh generasi muda. Ketiga, perhatian khusus bagi lansia dan penyandang disabilitas. Keempat, penguatan ekonomi kreatif yang berangkat dari potensi lokal.

Di sektor kepemudaan, Kartu Zilenial menjadi salah satu instrumen penting. Hingga akhir 2025, lebih dari 12 ribu generasi milenial dan Gen Z telah memanfaatkan program ini. Mulai dari pelatihan agribisnis, kewirausahaan, hingga penguatan keterampilan kerja. Di kecamatan, anak-anak muda tak lagi hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi pelaku yang disiapkan untuk mandiri.

Sementara itu, pada pilar perlindungan perempuan dan anak, Pemprov Jateng menggandeng TP-PKK, BKOW, serta berbagai lembaga terkait. Ratusan kader paralegal dilatih agar kecamatan mampu menjadi garda terdepan pendampingan korban kekerasan dan perundungan. Harapannya sederhana namun mendasar: warga mendapatkan rasa aman dan keadilan tanpa harus menempuh jarak yang jauh.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN Bantu Validasi Data Kemiskinan, Wagub Taj Yasin Siapkan Tindak Lanjut

“Pelayanan harus paling dekat dengan masyarakat, terutama untuk kesejahteraan sosial, perlindungan anak, dan pemberdayaan perempuan,” tegas Nadi.

Kecamatan Berdaya juga tidak berdiri sendiri. Pemprov Jateng mengonsolidasikan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) agar bergerak dalam satu arah. Rapat koordinasi tingkat provinsi digelar untuk memetakan peran masing-masing OPD hingga level kecamatan. Targetnya, mulai 2026 setiap OPD sudah memiliki kegiatan yang jelas dan terukur di Kecamatan Berdaya.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Pemerintah kabupaten/kota didorong aktif, bukan hanya melalui kebijakan, tetapi juga penguatan kelembagaan dan dukungan OPD setempat. Perguruan tinggi pun dilibatkan melalui program KKN, agar gagasan akademik bersua langsung dengan realitas sosial di kecamatan.

Ke depan, Pemprov Jateng menargetkan seluruh 576 kecamatan di Jawa Tengah berstatus Kecamatan Berdaya pada 2026. Sebuah ambisi besar, namun berangkat dari keyakinan sederhana: negara harus hadir di tempat paling dekat dengan warganya.

Di Jawa Tengah, negara tak lagi hanya berbicara dari balik podium. Ia berjalan menyusuri kecamatan, mengetuk pintu-pintu desa, dan menyapa warganya dengan layanan nyata. Itulah makna Kecamatan Berdaya, ikhtiar menghadirkan negara yang lebih dekat, lebih peduli, dan tentunya lebih berdaya.*

Berita Terkait

Antisipasi Banjir dan Longsor, PKK Jateng Latih Kader Tanggap Bencana
Bakti TNI AD untuk Rakyat, Ahmad Luthfi Resmikan Pembangunan Infrastruktur dan Rumah Layak Huni
Demi Keselamatan Pengendara, Jalur Penyelamat Kalijambe Dikebut hingga Akhir Tahun
Jateng Raih Peringkat Dua Nasional, Taj Yasin Genjot Wisata Ramah Muslim
Jumlah Perajin Menyusut, Nawal Yasin Ajak Anak Muda Lestarikan Batik
Peduli Warga Terdampak Kekeringan, BRI Purwodadi Distribusikan Bantuan Air Bersih
Kabar Dugaan OTT Bupati Klaten, Ahmad Luthfi Belum Tentukan Langkah Pemprov
Ahmad Luthfi Dorong Kampus Terlibat Langsung dalam Pengentasan Kemiskinan Jateng

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 19:56 WIB

Antisipasi Banjir dan Longsor, PKK Jateng Latih Kader Tanggap Bencana

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:23 WIB

Bakti TNI AD untuk Rakyat, Ahmad Luthfi Resmikan Pembangunan Infrastruktur dan Rumah Layak Huni

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:44 WIB

Demi Keselamatan Pengendara, Jalur Penyelamat Kalijambe Dikebut hingga Akhir Tahun

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Jateng Raih Peringkat Dua Nasional, Taj Yasin Genjot Wisata Ramah Muslim

Jumat, 16 Oktober 2026 - 08:56 WIB

Jumlah Perajin Menyusut, Nawal Yasin Ajak Anak Muda Lestarikan Batik

Berita Terbaru